Postingan

Urgensi Ilmu Pengetahuan

Betapa pentingnya peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia, sehingga Nabi menegaskan dalam haditsnya: “Diwajibkan atas muslim laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu”.  Bukan hanya persoalan akhtrati , tapi juga persoalan duniawi. Ketertinggalan umat islam saat ini merupakan bukti lemahnya pengetahuan yang dimiliki oleh umat islam. Ibarat mereka sudah terbang, umat islam masih naik unta. Ini harus disadari oleh setiap muslim, jangan hanya bisa bisa menjadi pemakai, akan tetapi penghasil atau pembuat. Itukan lebih baik. Jika persoalan tersebut lebih mengarah kepada sudut pandang duniawi, bukan berarti tidak berkaitan dengan urusan akhirati. Coba lihat faktanya banyak orang yang miskin jauh dari agama, karena kekufuran sangat dekat dengan orang-orang yang mempunyai ekonomi rendah, sebaliknya keserakahan dimiliki oleh orang yang sudah berkecukupan. Orang sangat mudah lalai, karena ilmu yang dimiliki tidak bermanfaat atau bahkan tidak memiliki pengetahuan, sehingg...

Mengenal Diri

Mengenal diri merupakan wacana lama yang selalu disampaikan oleh orang-orang bijak terdahulu, hingga kini masih tetap menjadi prioritas. Sejauh mana mengenal   siapa diri kita, sampai disitu apa yang bisa kita berikan kepada diri sendiri. Tidak akan keluar dari pemahaman yang dimiliki. Maka dari orang-orang yang mengenal dirinya tidak memiliki keraguan untuk bertindak. Semua manusia memiliki potensi yang sama, walau kadar dan prioritas yang berbeda. Bagi seseorang yang asing dengan dirinya sendiri, tentunya tidak menyadari hal ini. Hanya orang-orang yang bersahabatlah dengan dirinya bisa mengetahui potensi yang dimiliki. Tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan hingga putus asa, karena tidak mengenmal dirinya. Al-Qur’an telah menyampaikan kepada manusia bahwa mereka diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Multi potensi yang telah diberikan oleh Allah SWT, kenyataannnya banyak manusia yang melihat dunia tampak murung dihadapannya, seakan semuanya telah berakhir dengan...

Hukum Bagi Manusia

Adanya hukum yang berlaku di lingkungan masyarakat, bukanlah sesuatu yang bagi manusia . Karena jauh sebelum adanya manusia, hukum itu sudah ada. Dan hal ini bukan sebuah dari esensi kemanusian. Pada dasarnya manusia tidaklah membutuhkan hukum untuk mengatur kehidupannya. Namun terkadang manusia jauh dari sifat aslinya. Bahkan esensinya terberpisah dari raganya. Kenapa harus ada hukum yang mengatur? Agar manusia tetap pada poros yang telah digariskan oleh Allah SWT. Coba perhatikan jalan yang dipadati oleh kendaraan dan tidak ada aturan lalu lintas yang mengatur di sana, tentunya kecelakaan lalu lintas akan menjadi pemandangan sehari-hari. Diketahui bahwa jalan yang ada tidak selamanya lurus, ada tanjangan, tikungan, ada perempatan, dan lain-lain. Begitu juga dengan arah yang berlawan antar pengguna jalan kerap kali terjadi. Ini sangant relevan dengan kehidupan manusia yang mempunyai aturan. Bukan berarti di sini manusia dibatasi oleh hukum, akan tetapi memberikan bantuan aga...

Inilah Ghibah

Saya pernah memperingatkan seorang ibu-ibu berumuran 40 tahunan, ketika sedang asyiknya menceritakan keburukan temannya. Kemudian beliau mengatakan “ apa yang salah dari perbuatan saya ini, bukankah apa yang dilakukan teman saya itu benar terjadi”. M enyebarkan perlakuan buruk atau menggungjing adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan adalam Islam. Sekiranya apa yang dikatakan itu benar. Maka itulaha ghibah dan bila tidak benar apa yang telah dijadikan sebagai bahan pembicaraan. Maka itulah yang disebut fitnah.  “Telah menceritakan kepadaku Malik dari Al Walid bin Abdullah bin Shayyad bahwa Al Muthallib bin Abdullah bin Hanthab Al Makhzumi ia mengabarkan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah ghibah itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menjawab: “Engkau sebut pada diri seseorang, sesuatu yang benci jika mendengarnya.” Laki-laki itu bertanya lagi; “Wahai Rasulullah, walaupun yang diucapkan itu ...

Mengenal Manusia

Pertanyaan tentang siapa manusia kembali terdengar di telinga saya, saat menghadiri kajian akhlak yang dibawakan oleh ust. Hasyim Adnan. Saya rasa ini sangat urgen untuk dipahami. Beliau mengatakan dikala dipertanyakan tentang siapa manusia itu? Manusia adalah hewan yang berakal. Maka akan muncul pertanyaan lagi apa yang dimaksud dengan hewan di sini apa? Yang perlu digaris bawahi di sini adalah manusia dalam pandangan filsafat itu memiliki arti yang sama. Dapat disimpulkan bahwa filsafat tidak menemukan defenisi manusia yangs sesungguhnya. Karena al-Qur’an sendiri mengatakan bahwa manusia itu berbeda. Di saat Allah menjadikan manusia, Dia tidak menggunakan redaksi “ kami jadikan” tapi dengan redaksi “ saya” .  Dalam redaksi tersebut ketika Allah menjelaskan manusia. Apakah itu merupakan sebuah personal ataukah sebuah gelar saja. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Men...

Islam Memandang Kekerasan

Berapa banyak orang yang mati, dirampas haknya, menderita, tidak tenang dalam menjalani kehidupan, hidup di sela-sela kecemasan dan kekhawatiran. Tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat dari kekerasan dan tindakan brutal. Apakah semua ini dinilai sebuah kesalahan ataukah dosa? Para pelakunya menjawab ini atas dasar agama yang saya pahami, agama saya memerintahkan hal tersebut. Atas dasar itu mereka menganggap diri mereka yang paling beriman, memiliki derajat yang tingi dan paling dekat dengan Tuhan. Karena itu, mereka berhak memonopoli sebuah kebenaaran. Seakan mereka menjadi wakil Tuhan, menafsirkan teks suci secara monolitik.  Tidak peduli berapa banyak korban yang berjatuhan. Mendzolimi orang lain sudah bukan barang yang bernilai pelanggaran. Perinsip mereka adalah sebuah kebenaran yang harus ditegakkan. Mungkin kita memandang perbuatan tersebut adalah perbuatan tercela. Tapi mereka menilai apa yang dilakukan itu telah mengerjakan perbuatan baik. George W. B...

Saatnya Umat Islam Bangkit Dari Tidur Panjangnya

1.        Realitas Umat Islam Saat Ini Secara umum, manusia harus memiliki sikap dan pemikiran kritis. Sikap dan pemikiran kritis ini bukan berarti menghitung-hitung aib dan kekurangan. Arti dan sikap dan pemikiran kritis ialah menayakan dan membahas sesuatu agar bisa diketahui yang benar dari yang tidak benar. Umpamanya saja, sikap kritis atas sebuah kitab bukan berarti bahwa seseorang harus menghitung kelemahan-kelemahan kitab itu. Akan tetapi, ia harus mengemukakan semua kelebihan maupun kekurangan kitab itu. Seseorang harus bersikap kritis atas semua kabar yang didengarnya dari orang lain. Artinya, ia harus menganalisis dan mengkaji semua kabar yang didapatkannya itu. Jika ada suatu ucapan yang masyhur di tengah-tengah manusia, maka hal itu bukan berarti bahwa manusia wajib menerima ucapan itu, meskipun disampaikan dengan cara indah dan meyakinkan. Terlebih lagi dalam urusan-urusan agama, manusia wajib bersikap kritis . Sekarang yang kita saksik...